Minggu, 08 November 2009

EKSPRESI CINTA

Pertama kali saya mendengar puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul AKU INGIN dibacakan, saya langsung "jatuh hati" pada puisi ini. Meski saya merasa tak sebegitu paham tentang puisi, setidaknya saya bisa merasakan kedalaman makna yang tertuang di setiap untai kata dalam puisi tersebut. Cobalah kita simak bersama:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada

Saya tidak dalam konteks membedah isi puisi diatas. Saya hanya ingin anda turut merasakan keindahan ekspresi cinta yang saya tangkap tergambar begitu jelas dalam puisi tersebut. Ekspresi cinta yang lugas, namun begitu menyentuh.

Cinta adalah sebuah emosi yang sangat unik, ia dapat diekspresikan dalam wujud yang sangat beragam. Mulai dari yang sangat sederhana melalui ungkapan kata-kata yang romantis sampai bentuk yang begitu rumit untuk dicerna. Mulai dari yang masuk akal hingga wujud ekspresi yang diluar jangkauan akal sehat.

Cinta adalah juga kata yang bermakna sangat universal. Sejatinya ia menunjukkan hubungan emosi yang dalam antara suatu subjek (sang pecinta) dengan objek emosinya (yang dicintai). Hubungan ini dapat terjalin dalam dataran yang sangat luas, antara sepasang kekasih, antara suami dan istri, orang tua dan anak, bahkan juga hubungan antara manusia dengan materi/immateri dan alam semesta (cinta lingkungan, cinta kebersihan, cinta perdamaian, cinta harta, dll) hingga hubungan antara makhluk dan sang khaliq/penciptanya atau sebaliknya.

Tak jadi masalah seberapa besar keinginan anda untuk mewujudkan ekspresi cinta anda. Tapi sepakatkah anda bahwa satu hal yang terkadang sulit, sehingga perlu digarisbawahi adalah bagaimana anda mampu membuat objek yang anda cintai mengetahui dan menyadari bahwa apa yang anda lakukan sesungguhnya adalah wujud ekspresi cinta anda terhadapnya. Karena bisa jadi objek emosi anda sejatinya mendambakan bentuk ekspresi cinta yang sesuai dengan keinginannya.

Karenanya, langkah pertama dalam mewujudkan ekspresi cinta anda sesungguhnya adalah dengan belajar untuk mengenal objek cinta anda sedalam-dalamnya...

Sabtu, 07 November 2009

Atas Nama "Kebebasan Berekspresi"

Banyak orang telah menggunakan kalimat ini sebagai tameng ketika sebentuk prilakunya dipermasalahkan orang lain. Dari Seorang penyanyi yang pakaian dan goyangannya disorot masyarakat, seorang fotografer dan fotomodel yang "hasil karya"nya menghebohkan, hingga karikaturis yang karyanya "bermutu rendah" karena menghujat suatu ajaran agama, semuanya akan merasa aman berlindung di balik tameng "Kebebasan Berekspresi" . Sebegitu sakti kah kalimat ini ?

Menurut saya, pada dasarnya ada dua kata yang menjadi inti dari kalimat "Kebebasan Berekspresi" yaitu kata "Bebas" dan "Ekspresi". Bebas adalah suatu keadaan dimana seseorang lepas dari ikatan atau kendali apa/siapa pun . Sedangkan ekspresi didalamnya terkandung pengertian yang secara umum berarti ungkapan. Jadi secara harfiah kaliamat "kebebasan berekspresi" adalah sebuah keinginan untuk mengungkapkan sesuatu secara lepas tanpa ikatan atau kendali apa/siapa pun.

Manusia hidup dengan sebuah keyakinan akan adanya nilai benar dan salah dalam kehidupannya. Bagi orang yang beragama, maka nilai benar atau salah otomatis berstandar pada nilai-nilai ajaran agamanya. Sementara bagi mereka yang tidak beragama, nilai-nilai itu dapat berupa norma-norma kemasyarakatan maupun nilai-nilai kemanusiaaan yang diyakininya. Seberapa besar keyakinan manusia akan nilai benar dan salah itulah yang selanjutnya akan mengontrol prilakunya di dalam kehidupan.

Ketika seorang manusia secara sadar memilih suatu ajaran/norma yang diyakininya, maka sejak saat itulah sebenarnya ia telah mengikatkan dirinya pada ajaran/norma tersebut. Sehingga konsekuensi logisnya, secara otomatis dia siap dikendalikan oleh ajaran/norma yang diyakininya tersebut agar berjalan pada batas-batas tertentu yang telah ditetapkan ajaran/norma tersebut dalam menjalani seluruh aktivitas kehidupannya. Singkatnya, secara sadar memilih untuk tidak bebas lagi menjalani kehidupan sesuai dengan keinginan/nafsunya.

Dalam konteks inilah sebetulnya istilah "kebebasan berekspresi" menjadi sesuatu yang rancu, karena apapun yang dilakukan orang tersebut, dia harus mau dikontrol dan dinilai oleh ajaran/norma yang diyakininya. Dengan kata lain, sejatinya orang yang beragama tidak mengenal istilah "kebebasan berekpresi" (tanpa batas).

Mengapa kita tidak bisa menerima jika sebuah pembunuhan, penipuan atau perampokan dikatakan adalah juga suatu bentuk "kebebasan berekspresi ?" Hal itu karena ajaran/norma yang kita yakini menilai bahwa semua itu adalah sesuatu yang salah. Permasalahannya, sejauh mana seseorang mengenal ajaran/norma yang katanya dia yakini, sehingga ia mampu membedakan benar dan salah sesuai ajaran tersebut. Nah, jika seorang yang tidak tau akan ajaran yang dianutnya kemudian mengatasnamakan "kebebasan berekspresi " sebagai tameng prilakunya yang sudah jelas dinilai salah dalam ajaran yang ditelah dianutnya, maka sebetulnya dia adalah manusia yang berkata tanpa ilmu alias gak tau apa-apa tapi asal ngomong.

Karena itu, berlindung dibalik tameng "kebebasan berekspresi" untuk prilaku yang sudah jelas salah dalam pandangan ajaran agama dan norma kemasyarakatan yang diyakini si pelaku adalah suatu yang sesungguhnya teramat sangat menggelikan!!

Ekspresi

Ekspresi. Kata ini tiba-tiba saja muncul ketika saya memikirkan judul blog ini. Apa ya kata yang cocok? Yang jelas di blog ini saya hanya ingin menuangkan perasaan, unek-unek, cerita atau ide apa saja yang mewakili pikiran atau perasaan saya saat itu. Bukan tanpa tujuan dan harapan. Sejatinya saya ingin belajar menulis, membuat tulisan-tulisan yang bermanfaat sekaligus menuangkan segala pikiran, perasaan, dan keyakinan saya. Kata sebagian orang tulisan bisa mewakili gambaran pribadi seseorang. Nah kata "Ekspresi" inilah yang tiba-tiba terlintas dan saya anggap cukup mewakili apa yang ingin saya sampaikan.

Ekspresi yang bahasa English-nya expression, didalam kamus Inggris-Indonesia nya John M.Echols dan Hassan Shadily dapat diartikan sebagai ungkapan, ucapan, pernyataan, perasaan maupun tanda atau lambang. Jadi blog ini diharapkan dapat membantu mengungkapkan segala pikiran, perasaan, pemahaman maupun keyakinan saya dalam melihat berbagai hal dalam cakrawala kehidupan yang begitu luas.

Yang saya pahami, manusia pada dasarnya membutuhkan ruang untuk berekspresi. Bahkan sejak terlahir di dunia manusia telah "dituntun" Sang Pencipta untuk mengekspresikan dirinya lewat sebuah tangisan. Ada bayi yang lahir diiringi suara tangisnya yang nyaring dan keras, ada yang melengking, ada yang agak pelan tapi intens dan sebagainya. Masing-masing dengan irama yang khas . Irama yang bisa dibedakan oleh seorang ibu yang memang jeli dan perhatian. Tak jarang di sebuah rumah bersalin kita mendengarkan seorang ibu berkata: "O, itu bukan bayi saya yang menangis, suaranya beda". Ekspresi setiap individu memang khas dan sangat mungkin tak ada duanya. Ekspresi yang mewakili Ke-Maha Besar-an Penciptanya.

Untuk alasan itu, jangan takut berekspresi! Namun juga perlu lugas dan tidak perlu dibuat-buat. Serta jangan lupa berani bertanggung jawab. Tapi, seandainya anda memang takut mengekspresikan pikiran dan perasaaan anda atau sengaja membuat-buat ekspresi yang tidak sebenarnya, atau mungkin tak berani mempertanggungjawabkannya bisa jadi itu semua justru mekspresikan pribadi anda yang sebenarnya. Bingung ya ? Bisa jadi itu juga bentuk emosi anda yang perlu diekspresikan setelah membaca tulisan ini!