Banyak orang telah menggunakan kalimat ini sebagai tameng ketika sebentuk prilakunya dipermasalahkan orang lain. Dari Seorang penyanyi yang pakaian dan goyangannya disorot masyarakat, seorang fotografer dan fotomodel yang "hasil karya"nya menghebohkan, hingga karikaturis yang karyanya "bermutu rendah" karena menghujat suatu ajaran agama, semuanya akan merasa aman berlindung di balik tameng "Kebebasan Berekspresi" . Sebegitu sakti kah kalimat ini ?
Menurut saya, pada dasarnya ada dua kata yang menjadi inti dari kalimat "Kebebasan Berekspresi" yaitu kata "Bebas" dan "Ekspresi". Bebas adalah suatu keadaan dimana seseorang lepas dari ikatan atau kendali apa/siapa pun . Sedangkan ekspresi didalamnya terkandung pengertian yang secara umum berarti ungkapan. Jadi secara harfiah kaliamat "kebebasan berekspresi" adalah sebuah keinginan untuk mengungkapkan sesuatu secara lepas tanpa ikatan atau kendali apa/siapa pun.
Manusia hidup dengan sebuah keyakinan akan adanya nilai benar dan salah dalam kehidupannya. Bagi orang yang beragama, maka nilai benar atau salah otomatis berstandar pada nilai-nilai ajaran agamanya. Sementara bagi mereka yang tidak beragama, nilai-nilai itu dapat berupa norma-norma kemasyarakatan maupun nilai-nilai kemanusiaaan yang diyakininya. Seberapa besar keyakinan manusia akan nilai benar dan salah itulah yang selanjutnya akan mengontrol prilakunya di dalam kehidupan.
Ketika seorang manusia secara sadar memilih suatu ajaran/norma yang diyakininya, maka sejak saat itulah sebenarnya ia telah mengikatkan dirinya pada ajaran/norma tersebut. Sehingga konsekuensi logisnya, secara otomatis dia siap dikendalikan oleh ajaran/norma yang diyakininya tersebut agar berjalan pada batas-batas tertentu yang telah ditetapkan ajaran/norma tersebut dalam menjalani seluruh aktivitas kehidupannya. Singkatnya, secara sadar memilih untuk tidak bebas lagi menjalani kehidupan sesuai dengan keinginan/nafsunya.
Dalam konteks inilah sebetulnya istilah "kebebasan berekspresi" menjadi sesuatu yang rancu, karena apapun yang dilakukan orang tersebut, dia harus mau dikontrol dan dinilai oleh ajaran/norma yang diyakininya. Dengan kata lain, sejatinya orang yang beragama tidak mengenal istilah "kebebasan berekpresi" (tanpa batas).
Mengapa kita tidak bisa menerima jika sebuah pembunuhan, penipuan atau perampokan dikatakan adalah juga suatu bentuk "kebebasan berekspresi ?" Hal itu karena ajaran/norma yang kita yakini menilai bahwa semua itu adalah sesuatu yang salah. Permasalahannya, sejauh mana seseorang mengenal ajaran/norma yang katanya dia yakini, sehingga ia mampu membedakan benar dan salah sesuai ajaran tersebut. Nah, jika seorang yang tidak tau akan ajaran yang dianutnya kemudian mengatasnamakan "kebebasan berekspresi " sebagai tameng prilakunya yang sudah jelas dinilai salah dalam ajaran yang ditelah dianutnya, maka sebetulnya dia adalah manusia yang berkata tanpa ilmu alias gak tau apa-apa tapi asal ngomong.
Karena itu, berlindung dibalik tameng "kebebasan berekspresi" untuk prilaku yang sudah jelas salah dalam pandangan ajaran agama dan norma kemasyarakatan yang diyakini si pelaku adalah suatu yang sesungguhnya teramat sangat menggelikan!!
Menurut saya, pada dasarnya ada dua kata yang menjadi inti dari kalimat "Kebebasan Berekspresi" yaitu kata "Bebas" dan "Ekspresi". Bebas adalah suatu keadaan dimana seseorang lepas dari ikatan atau kendali apa/siapa pun . Sedangkan ekspresi didalamnya terkandung pengertian yang secara umum berarti ungkapan. Jadi secara harfiah kaliamat "kebebasan berekspresi" adalah sebuah keinginan untuk mengungkapkan sesuatu secara lepas tanpa ikatan atau kendali apa/siapa pun.
Manusia hidup dengan sebuah keyakinan akan adanya nilai benar dan salah dalam kehidupannya. Bagi orang yang beragama, maka nilai benar atau salah otomatis berstandar pada nilai-nilai ajaran agamanya. Sementara bagi mereka yang tidak beragama, nilai-nilai itu dapat berupa norma-norma kemasyarakatan maupun nilai-nilai kemanusiaaan yang diyakininya. Seberapa besar keyakinan manusia akan nilai benar dan salah itulah yang selanjutnya akan mengontrol prilakunya di dalam kehidupan.
Ketika seorang manusia secara sadar memilih suatu ajaran/norma yang diyakininya, maka sejak saat itulah sebenarnya ia telah mengikatkan dirinya pada ajaran/norma tersebut. Sehingga konsekuensi logisnya, secara otomatis dia siap dikendalikan oleh ajaran/norma yang diyakininya tersebut agar berjalan pada batas-batas tertentu yang telah ditetapkan ajaran/norma tersebut dalam menjalani seluruh aktivitas kehidupannya. Singkatnya, secara sadar memilih untuk tidak bebas lagi menjalani kehidupan sesuai dengan keinginan/nafsunya.
Dalam konteks inilah sebetulnya istilah "kebebasan berekspresi" menjadi sesuatu yang rancu, karena apapun yang dilakukan orang tersebut, dia harus mau dikontrol dan dinilai oleh ajaran/norma yang diyakininya. Dengan kata lain, sejatinya orang yang beragama tidak mengenal istilah "kebebasan berekpresi" (tanpa batas).
Mengapa kita tidak bisa menerima jika sebuah pembunuhan, penipuan atau perampokan dikatakan adalah juga suatu bentuk "kebebasan berekspresi ?" Hal itu karena ajaran/norma yang kita yakini menilai bahwa semua itu adalah sesuatu yang salah. Permasalahannya, sejauh mana seseorang mengenal ajaran/norma yang katanya dia yakini, sehingga ia mampu membedakan benar dan salah sesuai ajaran tersebut. Nah, jika seorang yang tidak tau akan ajaran yang dianutnya kemudian mengatasnamakan "kebebasan berekspresi " sebagai tameng prilakunya yang sudah jelas dinilai salah dalam ajaran yang ditelah dianutnya, maka sebetulnya dia adalah manusia yang berkata tanpa ilmu alias gak tau apa-apa tapi asal ngomong.
Karena itu, berlindung dibalik tameng "kebebasan berekspresi" untuk prilaku yang sudah jelas salah dalam pandangan ajaran agama dan norma kemasyarakatan yang diyakini si pelaku adalah suatu yang sesungguhnya teramat sangat menggelikan!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar